Gel, Kontrasepsi Pria di Masa Depan

Kelak, para pria akan memiliki lebih banyak pilihan kontrasepsi selain kondom dan vasektomi. Para ilmuwan kini terus mendalami riset kontrasepsi khusus pria yang berbasis gel. Hasil penelitian awal cukup menjanjikan.

Kontrasepsi yang disebut Nestorone ini adalah yang pertama kali mengombinasikan testosteron dengan progestin sintetik dalam bentuk gel. Pemakaiannya dengan dioleskan pada kulit. Dalam penelitian terbukti gel tersebut secara dramatis menurunkan jumlah testosteron sehingga juga menurunkan, meski tidak mencegah, kehamilan.

Kendati pria sering dianggap kurang peduli pada persoalan kontrasepsi, namun para peneliti optimis jika kontrasepsi gel ini nantinya sudah dipasarkan, banyak pria akan tertarik.

“Sara rasa pria akan tertarik memakainya. Cukup banyak pria yang peduli pada kehamilan yang tak diinginkan, sama halnya seperti kaum perempuan,” kata Dr.Josep Alukal, asisten profesor urologi dari NYU Langone Medical Center, yang tidak terlibat dalam penelitian ini.

Hasil penelitian Nestorone ini sudah dipresentasikan dalam pertemuan Endocrine Society di Houston belum lama ini.

Menurut dr. Christina Wang, profesor kedokteran dari Los Angeles Biomedical Research Institute, yang melakukan riset tersebut, gel harus diaplikasikan di dua tempat, yang mengandung testosteron di bagian tangan, serta yang mengandung progestin di bagian perut. Gel itu harus diaplikasikan setiap hari selama enam bulan.

Penelitian awal ini diikuti oleh 56 pria yang dibagi ke dalam tiga kelompok. Masing-masing menerima gel berisi testosteron dan gel yang mengandung progestin sintentis, kelompok kedua mendapat gel mengandung testosteron serta gel plasebo yang tidak mengandung progestin.

Hasilnya, 89 persen pria yang mendapat formula kombinasi mengalami penurunan konsentrasi sperma sampai kurang dari satu juta sperma per mililiter. Konsentrasi sperma yang normal adalah lebih dari 15 juta sperma per mililiter.

Kini belum diketahui apakah regimen gel tersebut bisa bertahan lama dan apakah efek samping yang mungkin timbul. Menurut Alukal, perlu diketahui juga kapan jumlah sperma bisa kembali normal jika pemakaian gel dihentikan.

Sumber: kompas.com

Advertisements

Comments

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s